Ngaji Anti-Radikalisme, Wakil Bupati Malang Ajak Cintai Negara Di Tengah Keberagaman

TAJINAN – Bertempat di Gedung BPU Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang pada Minggu (2/5) siang, Wakil Bupati Malang, Drs. Didik Gatot Subroto, S.H., M.H., menghadiri acara Ngaji Anti-Radikalisme yang diselenggarakan oleh PAC GP Ansor, IPNU, dan IPPNU. Tampak hadir mendampingi Wakil Bupati Malang di antaranya Ketua PCNU Kabupaten Malang Dr. Umar Ustman, Camat Tajinan, Kapolsek, Danramil, Kepala Bagian Administrasi Kesejahteraan Rakyat, serta Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Malang. Kegiatan Ngaji Anti-Radikalisme ini dilatarbelakangi oleh adanya keresahan atas masih banyaknya generasi muda yang belum mengerti apa itu terorisme dan radikalisme, serta bagaimana mengidentifikasi dan mengatasinya.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Malang menyambut baik dan memberikan apresiasi kepada seluruh kegiatan yang diselenggarakan oleh GP Ansor, baik kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan maupun  kegiatan Ngaji Anti-Radikalisme ini. Kegiatan ini menjadi modal dasar dalam mencintai bangsa dengan tetap mengedepankan agama sebagai sarana utama untuk mencintai nusantara. Oleh karena itu, Drs. Didik Gatot Subroto, S.H., M.H., berharap agar generasi muda dapat diperkenalkan dengan sebuah paham bahwa Islam itu mengajarkan kedamaian, Islam itu rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Radikalisme adalah suatu paham yang salah dan tidak dibenarkan di Islam yang menganut ahlussunnah wal jama’ah. Wakil Bupati Malang berpesan, “Tanamkan rasa cinta kepada bangsa dan negara dan wujudkanlah di tengah keberagaman agama yang ada di Indonesia ini.”

Kecamatan Tajinan menjadi satu kecamatan penyangga antara kota, karena lokasinya yang berdekatan dengan kota. Pertumbuhan penduduk dan ekonomi akan berkembang pesat di daerah ini, sehingga dalam rangka menangkal radikalisme, perlu dipersiapkan benteng-benteng yang kuat. Melalui kegiatan ini, lanjut Wakil Bupati Malang, adalah salah satu sarana terbaik dalam rangka mengenalkan generasi muda mengenai paham radikalisme yang harus ditentang agar tidak mempengaruhi konsep berpikir anak-anak muda. Generasi muda, khususnya remaja, menurut Drs. Didik Gatot Subroto, S.H., M.H., adalah kelompok usia yang rentan akan potensi terpapar ide-ide radikalisme, sehingga diharapkan agar kegiatan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi para peserta untuk memperdalam pengetahuannya sebagai bekal membentengi diri.

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Malang, Dr. Umar Ustman, menyampaikan pentingnya kerja sama di dalam penyelesaian masalah yang besar. Termasuk dalam hal mengatasi radikalisme yang hingga saat ini masih menjadi kekhawatiran bersama, diperlukan sinergi dari banyak pihak. Kecamatan Tajinan yang berbatasan dengan kota, menjadi daerah urban yang pasti mengundang banyak pendatang. Hal inilah yang perlu diwaspadai, karena banyak muncul daerah permukiman baru yang kontrol sosialnya harus diperhatikan. Generasi milenial sebagai prajurit-prajurit di media sosial perlu mendapat pengawasan khusus dari orang tua. Mengapa terjadi radikalisme? Menurut Dr. Umar Ustman, ini terjadi akibat pemahaman yang masih sempit namun secara tergesa-gesa dieksekusi. “Di sinilah peran kita semua, bagaimana generasi kita agar tidak terpapar paham radikalisme hingga melakukan perbuatan-perbuatan yang nekat,” tegasnya. Menutup sambutannya, Ketua PCNU Kabupaten Malang mengajak seluruh peserta untuk memahami Islam secara keseluruhan, bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin. Beliau juga berharap agar para peserta Ngaji Anti-Radikalisme kelak menjadi prajurit-prajurit tangguh di media sosial yang memberikan warna positif dan menyebarkan budi pekerti luhur. (hum/nrl)

Share this Post: