09 Dec 2025
Senyawa Nusantara di Malang Raya, Wamen Kebudayaan RI Puji Sinergi Budaya dan Ekonomi Kreatif di Boonpring Turen
TUREN – Untuk pertama kalinya, tiga daerah di Malang Raya yakni Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu berkolaborasi menjadi tuan rumah bersama dalam ajang Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025 yang mengusung tema besar “Senyawa Nusantara.”
ICCF tidak hanya menjadi ajang perayaan kreativitas, tetapi juga menjadi wadah berbagi kinerja, gagasan, dan inspirasi antar daerah. Salah satu bentuk kolaborasi tersebut tampak dalam Forum Kepala Daerah, di mana para perwakilan dari berbagai kota saling berbagi pengalaman dalam membangun ekosistem kreatif di wilayahnya masing-masing.
Pada kesempatan ini, Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., bersama Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib turut mendampingi Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo, dalam rangkaian kegiatan ICCF 2025 yakni Festival Ekonomi Kreatif 2025 yang digelar di Kawasan Wisata Boonpring, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, pada Minggu (9/11) pagi.
Selain Festival Ekonomi Kreatif, kegiatan ini juga dirangkai dengan Launching Logo Branding Pariwisata Kabupaten Malang, Peresmian Boonpring Bamboo Living Museum, Peresmian Pasar Wisata Boonpring, Grand Final Duta Wisata Joko Roro Cilik Kabupaten Malang, dan Gebyak Wayang Topeng Malangan.
“Saya sangat mengapresiasi pelaksanaan Festival Ekonomi Kreatif 2025 di Kabupaten Malang, khususnya di kawasan wisata Boonpring ini. Kegiatan seperti ini bukan hanya menjadi ajang perayaan kreativitas, tetapi juga bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat.” ujar Wamen Kebudayaan RI, Giring.
Pesona Tari Topeng Malang memukau para penonton dalam ajang Gebyak Wayang Topeng Malang. Pertunjukan kolosal ini menjadi bagian dari Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Malang 2025, sekaligus wujud nyata komitmen daerah dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya. Tari Topeng Malang menjadi pusat perhatian sepanjang festival. Lebih dari sekadar tontonan, gebyak ini menjadi simbol pelestarian Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang telah diakui sejak 2014. Cerita Panji yang menjadi inti kisah Topeng Malang juga telah tercatat dalam Memory of the World UNESCO sejak 2017, menegaskan nilai sejarah dan filosofi yang dikandungnya.
“Saya juga memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilan Gebyak Wayang Topeng Malang yang menjadi pusat perhatian sepanjang festival ini. Lebih dari sekadar tontonan, gebyak ini merupakan simbol pelestarian Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Festival ini menjadi contoh nyata sinergi antara budaya dan ekonomi kreatif. Wayang Topeng Malangbukan sekadar seni pertunjukan, tetapi simbol pelestarian warisan budaya dunia yang harus terus kita hidupkan.” tambah Wamen Kebudayaan RI, Giring.
Suasana di Boon Pring kian hidup oleh alunan gamelan dan lenggak-lenggok penari topeng yang memadukan keindahan seni gerak, musik, dan spiritualitas Jawa Timur bagian timur. Dengan semangat kolaborasi dan kebanggaan budaya, Tari Topeng Malang kembali membuktikan dirinya sebagai ikon seni yang tak lekang zaman, dan menari di antara tradisi dan kemajuan, menjaga identitas Kabupaten Malang di panggung nasional maupun dunia.
“Kabupaten Malang memiliki potensi budaya dan alam yang luar biasa. Melalui festival ini, saya melihat semangat besar dari para pelaku kreatif lokal untuk terus mengangkat identitas daerah melalui inovasi yang berbasis budaya. Inilah wujud dari pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan yakni ketika tradisi, kreativitas, dan ekonomi berjalan beriringan.” pungkas Wamen Giring.
Pihaknya berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia, bahwa ekonomi kreatif tidak hanya tumbuh di kota besar, tetapi juga bisa berkembang kuat dari desa-desa wisata dan komunitas budaya seperti di Boonpring, Kabupaten Malang ini.
Sementara itu, Bupati Sanusi mengatakan bahwa melalui Festival Ekraf ini, beliau ingin menunjukkan bahwa Kabupaten Malang bukan hanya tujuan wisata, tetapi juga ruang hidup bagi pelaku ekonomi kreatif yang terus tumbuh di berbagai subsektor, seperti kuliner, kriya, fashion, film, musik, fotografi, hingga teknologi digital.
"Kabupaten Malang dipilih menjadi bagian dari Creative Journey Nusantara karena memiliki DNA kreatif yang kuat dari komunitas seni tradisi seperti wayang topeng dan batik Malangan. Kami ingin mempertegas posisi Kabupaten Malang sebagai Creative and Cultural Destination of East Java yang di dalamnya merangkum destinasi kreatif dan budaya yang menggabungkan sejarah, inovasi, dan semangat kolaborasi lintas generasi," pungkas Bupati Malang.
Pemerintah Kabupaten Malang juga meyakini bahwa pembangunan ekonomi kreatif bukan sekadar urusan hiburan, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan daerah yang berkelanjutan, yang memberi nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan. (prokopim/dhe)
Galeri Terkait