12 May 2026
BMKG Prediksi Bulan April Memasuki Awal Musim Kemarau Tahun 2026 di Wilayah Jawa Timur termasuk Kabupaten Malang
MALANG
– Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa
Timur secara resmi telah merilis Prakiraan Musim Kemarau Tahun 2026. Secara
umum, wilayah Jawa Timur termasuk Kabupaten Malang dihimbau untuk meningkatkan
kewaspadaan karena adanya potensi penguatan fenomena El Nino yang dapat
menyebabkan kondisi cuaca jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, menekankan
bahwa informasi ini merupakan peringatan dini (early warning) agar para
pemangku kepentingan dan masyarakat dapat melakukan aksi dini guna meminimalkan
risiko bencana kekeringan.
Sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Malang, diprediksi akan mulai memasuki awal musim kemarau pada bulan Mei 2026. Data menunjukkan bahwa 56,9% luas wilayah akan masuk kemarau di bulan tersebut, sementara sebagian kecil wilayah lainnya mungkin sudah memulai kemarau lebih awal pada bulan April atau menyusul pada Juni. Puncak musim kemarau di Kabupaten Malang diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus 2026. Wilayah Malang termasuk dalam 53 ZOM di Jawa Timur yang mengalami puncak kekeringan paling intens di bulan tersebut. Karakteristik Kemarau Tahun 2026 yakni Lebih Kering, sifat hujan selama musim kemarau diprediksi masuk kategori Bawah Normal. Hal ini dipicu oleh peluang penguatan El Nino sebesar 50-60% pada pertengahan hingga akhir tahun. Durasi Panjang, durasi kemarau diperkirakan cukup lama, dengan rentang waktu berkisar antara 16 hingga 24 dasarian (sekitar 5 hingga 8 bulan) di berbagai zona.
Awal
Musim Kemarau 2026 di Kabupaten Malang akan terjadi pada April Minggu III, Mei
dan Juni (terlampir pada peta). Puncak Musim Kemarau 2026 di Kabupaten Malang
akan terjadi pada Bulan Agustus dan September 2026. Beberapa kecamatan yang diprakirakan
memasuki awal musim kemarau pada Bulan April yakni Kecamatan Bantur, Donomulyo,
Kalipare dan Pagak. Pada Bulan Mei yakni Kecamatan Bululawang, Dampit, Dau,
Gedangan, Gondanglegi, Jabung, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Kromengan,
Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Pujon,
Singosari, Sumbermanjing, Sumberpucung, Tajinan, Tirtoyudo, Tumpang, Turen,
Wagir, Wajak dan Wonosari. Sedangkan pada Bulan Juni yakni Kecamatan Ampelgading.
Berdasarkan
hasil kajian risiko bencana terdapat beberapa potensi kejadian bencana ketika
Musim Kemarau yakni Kekeringan, Kebakaran Hutan dan Lahan. Terdapat 22
Kecamatan termasuk dalam daerah risiko Kekeringan yaitu Kecamatan Donomulyo
Kalipare, Pagak, Bantur, Sumbermanjing, Dampit, Tirtoyudo, Ampelgading,
Poncokusumo, Wajak, Turen, Sumber Pucung, Kromengan, Ngajum, Wonosari, Lawang,
Singosari, Karangploso, Dau, Pujon, Ngantang, dan Kasembon. Kemudian terdapat 26
Kecamatan termasuk dalam daerah risiko Kebakaran Hutan dan Lahan yaitu Kecamatan
Donomulyo, Kalipare, Pagak, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing, Dampit, Tirtoyudo,
Ampelgading, Poncokusumo, Wajak, Turen, Kromengan, Ngajum, Wonosari, Wagir,
Pakisaji, Tumpang, Jabung, Lawang, Singosari, Karangploso, Dau, Pujon, Ngantang
dan Kasembon.
Pada
Tahun 2019 terdapat 18 Desa yang tersebar pada 11 Kecamatan di Kabupaten Malang
terdampak Krisis Air Bersih/ Kekeringan yakni pada Kecamatan Jabung, Donomulyo,
Singosari, Sumbermanjing Wetan, Kalipare, Lawang, Sumberpucung, Pagak, Bantur,
Gedangan dan Pujon. Pada Tahun 2023 terdampak 22 Desa yang tersebar di 8
Kecamatan di Kabupaten Malang terdampak Krisis Air Bersih/ Kekeringan yakni
pada Kecamatan Jabung, Singosari, Sumbermanjing Wetan, Kalipare, Donomulyo,
Sumberpucung, Kromengan, Pagak. Sedangkan pada Tahun 2024 terdapat 23 Desa yang
tersebar di 7 Kecamatan di Kabupaten Malang terdampak Krisis Air Bersih/
Kekeringan yakni pada Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Donomulyo, Gondanglegi,
Bantur, Kalipare, Gedangan dan Pagak. Berdasarkan data Pusdalops PB tidak
tercatat Kejadian Krisis Air Bersih/ Kekeringan pada Tahun 2025. Beberapa
faktor yang menjadi pemicu terjadinya Krisis Air Bersih/ Kekeringan di Wilayah
Kabupaten Malang yakni berkurangnya volume air pada sumber air yang diduga
dipicu oleh rendahnya curah hujan dan adanya beberapa kendala atau kerusakan
pada infrastruktur yang berkaitan dengan saluran dan jaringan distribusi air
bersih.
BMKG merekomendasikan beberapa langkah strategis untuk menghadapi potensi kemarau kering di Kabupaten Malang yakni pada sektor pertanian dan pangan agar segera menyesuaikan kalender tanam dan beralihlah ke varietas tanaman yang tahan kekeringan atau berumur pendek (seperti palawija) guna menghindari risiko gagal panen. Mongoptimalkan pemanfaatan lahan dengan diversifikasi tanaman hortikultura. Lakukan "panen air hujan" di sisa periode musim hujan untuk mengisi waduk, embung, atau tandon air sebagai cadangan konsumsi dan irigasi. Menggunakan air secara bijak dan efisien untuk keperluan sehari-hari.
Kemudian
pada sektor kebencanaan dan Kesehatan agar mewaspadai potensi kesulitan air
bersih dan mulailah merencanakan penanggulangan distribusi air bersih di
wilayah rawan kekeringan. Meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran
hutan dan lahan (karhutla), terutama di area pegunungan dan lahan kering. Menjaga kondisi kesehatan tubuh menghadapi perubahan cuaca
ekstrem selama masa peralihan dan suhu udara yang lebih panas saat puncak
kemarau. (sr/pb)
Salam Tangguh Bencana!
Galeri Terkait