Berita

Silaturahmi, Kesabaran dan Persaudaraan Sangat Penting

 | dibaca 1904 kali

    Karangploso (13/8)- Bagaimanapun juga, manusia tak lepas dari dua sisi sifat berlawanan, yakni baik dan buruk. Jikalau seseorang ditakdirkan ”kurang beruntung”, sebagai sesama muslim kita harus bisa saling mengingatkan. Tentunya juga dengan cara yang baik. Seperti misalnya ada kasus asusila yang terjadi disuatu tempat di Karangploso beberapa waktu lalu. Maka, ketika memberikan sambutannya dalam acara Safari Romadhon putaran ke V di PPAI Darun Najah Desa Ngijo, Bupati H. Rendra Kresna menyampaikan bahwa mereka (pekerja seks, red) merupakan manusia juga. Mereka juga perlu diperlakukan seperti manusia pada umumnya. Sebagai respons atas keluhan masyarakat atas maraknya bisnis ini yang dilakukan ditengah-tengah areal persawahan, bupati mengatakan bahwa untuk mengatasinya harus dilakukan dengan pembinaan. ”Kita jangan mengoprak-aprik mereka secara kasar, tetapi dengan pembinaan,” ujar bupati ke-22 Jum’at sore (12/8).
    Penanganan seperti ini dipercaya akan bisa meminimalisir penyebaran penyakit berbahaya yakni HIV/AIDS. ”Kuatirnya, nanti penyakit ini akan menyebar ke masyarakat,” terang Bung Rendra yang baru dua kali berkunjung ke Ponpes pimpinan KH Muchtar Gozali ini. Solusi seperti ini, juga dianjurkan oleh agama Islam. Karena bagaimanapun juga mereka adalah manusia. Kasus seperti ini juga pernah terjadi di zaman nabi-nabi dulu. Bupati asli Madura ini kemudian menceritakan, dulu ada seorang PSK di Iraq yang meninggal dunia. Saat dimandikan, ada seorang ibu yang turut memandikan jenazah dengan sengaja memukul kemaluan si PSK tadi. Ia menganggap seorang PSK tersebut adalah wanita yang hina. Anehnya, setelah melakukannya, tangan si wanita tersebut tetap menempel dan sangat sulit sekali untuk dilepaskan.
    Berbagai macam cara dilakukan, namun tetap saja gagal. Sampai-sampai ada pertentangan pendapat dikalangan muslim waktu itu. Ada pendapat yang menyatakan bahwa si jenazah adalah wanita yang hina dan sudah meninggal, sehingga dia saja yang dipotong. Di sisi lain, ada beberapa kalangan yang menyatakan bahwa yang harus dipotong adalah tangan si wanita yang memandikan tersebut. ”Pertentangan ini sempat menjadi perdebatan yang hebat waktu itu,” cerita bupati. Nah, akhirnya datanglah seorang anak kecil yang masih berusia 9 tahun. Sejurus kemudian bocah tersebut mengambil potongan jerami dan memukul tangan si wanita yang memandikan jenazah PSK itu sebanyak 100 kali. Akhirnya, lepaslah tangan si wanita itu.
    Kalangan muslim waktu itu selanjutnya menganggap bahwa anak tersebut kelak akan bisa menjadi panutan. Dan benar memang, dalam perkembangan selanjutnya, anak tersebut telah dikenal luas di dunia muslim dengan nama Malik Bin Arsh. Yang kemudian dalam perkembangannya ia terkenal dengan mahzab Imam Syafi’i sampai saat ini. Nah, inti dari cerita bupati ini adalah bahwa seorang PSK adalah manusia juga. Meskipun semasa hidupnya banyak melakukan perbuatan yang dilarang agama. ”Kita juga harus memperlakukan dia seperti manusia pada umumnya,” kata bupati. Seluruh peserta yang hadir, mulai ulama, FKPD (muspida dan muspika), santri, dan warga masyarakatpun larut dalam cerita ini.   
     Safari Ramadhon kali ini memang terasa berbeda karena dilangsungkan di sebuah Ponpes. Karena sebelumnya, untuk safari biasa dilakukan diluar sebuah ponpes. Usai buka bersama, seluruh peserta safari melangsungkan Sholat Magrib bersama di Masjid Darun Najah yang ada didalam Ponpes ini. KH. Muchtar Gozali mengatakan merasa senang kegiatan ini dilakukan di Ponpes asuhannya. Ia mengungkapkan, hubungan yang baik antara ulama dan umaro’ seperti ini dapat memberikan manfaat yang sangat besar. Ia yang sebelumnya menceritakan bahwa disuatu tempat ada praktek perzinahan ini menyatakan saat ini kasus tersebut sudah bisa diatasi dengan baik. ”Itu bisa diselesaikan dengan cara yang baik berkat kerjasama antara ulama dan umaro’ (aparat keamanan, red),” ujar alumni Ponpes PPAI Ketapang Kepanjen ini.

Pondokan Yang Dinamis

    Kiai humoris ini lalu sedikit menceritakan sejarah berdirinya PPAI Darun Najah yang sejak berdirinya selalu diterpa cobaan. Boleh dibilang selama hampir setengah abad, Pondokan yang banyak meluluskan ribuan santri ini mengalami pasang surut. Berbagai hambatan, baik dari peralihan kekuasaan sampai hal-hal mistis terjadi disini. Pertama kali dibangun sekitar tahun 1967 dengan hanya memiliki 3 orang santri, lambat laun bisa berkembang. Tanah yang dipakai awalnya tak sampai 1 ha dengan lahan berupa pekarangan. Lima belas hari setelah dibangun, mulailah berdatangan puluhan antri lain sampai sebanyak 65 anak. Tahun 1974, perbaikan sedikit demi sedikit dilakukan dari hasil panen jagung, usaha keluarga yang juga ikut dirintis. Barulah pada tahun 1992, tepatnya pada tanggal 11 September, mulai dibangun sebuah masjid secara sederhana dengan hanya menggunakan dana Rp. 230 ribu. Uang itu berasal dari penjualan kalender. Ketika memasuki tahun 1995, pondokan ini semakin berkembang dan luas. Salah satunya dari dana bantuan anak didik.
    Sementara itu, sekolah yang juga ada disini didirikan pada tahun 1987, saat Kab. Malang dipimpin oleh Bapak. Hamid yang sekaligus juga menandatangani prasastinya. Nah, dua tahun sebelumnya, cerita mengerikan pernah terjadi disini. Ternyata, setan yang mendiami kawasan ini mengganggu ketentraman penghuni pondokan. Sebanyak 24 santri terkena imbasnya, mereka sampai kesurupan hebat. Tetapi, berkat kesabaran dan ketelatenan masalah ini bisa diatasi. Satu cerita menegangkan juga pernah terjadi kala zaman pemberontakan PKI tahun 1965. Kejadian tepatnya tahun 1968. Saat itu, pondok ini hampir dibubarkan. Masalahnya, orang tua KH. Muchtar saat itu dituduh melindungi anggota PKI sehingga Koramil sempat akan membubarkannya. Tetapi, dengan penjelasan yang tepat bahwa dia tidak terlibat, pondokan ini tetap bisa eksis.

Gelontorkan Bantuan dan Menariknya Tausiyah di Darun Najah
   
    Dalam safari di PPAI Darun Najah tersebut, Pemerintah Kab. Malang juga memberikan beragam bantuan yang menyasar kepada kemajuan agama dan kesejahteraan warga kurang mampu. BAZ memberikan bantuan sebanyak 100 paket sembako kepada kaum dhuafa. Lalu sejumlah 20 mushaf Al Qur’an juga turut diberikan. Terakhir, pemerintah melalui Bag. Bina Mental dan Kerohanian memberikan bantuan perawatan Masjid Darun Najah.
Di penghujung acara, ada Tausiyah yang sangat menarik disampaikan oleh KH. Lutfi Hakim. Ulama kondang Karangploso ini menyampaikan materi tentang pentingnya menyambung tali silaturahmi sesama manusia. ”Allah memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang yang memutus tali persaudaraan. Jika ia melakukannya, ia juga akan diputus rahmatnya,” katanya. Ia menambahkan, banyak sekali yang bisa dilakukan oleh sesama muslim untuk menyambung tali silaturahmi. Seperti sholat berjama’ah, kegiatan pertemuan seperti safari, berzakat, dll.
    ”Puasa juga melatih rasa kepedulian terhadap sesama yang kurang beruntung, itu juga termasuk menjalin silaturahmi karena dengan berpuasa kita bisa merasakan seperti apa rasanya menjadi orang yang kurang beruntung,” jelas Lutfi. Di hari akhir nanti, Allah juga menganjurkan supaya umat Islam harus tetap menjaga silaturahmi, apapun bentuknya dan dengan siapapun. Meski itu terhadap orang yang pernah berbuat kesalahan kepada kita. (Humas/loh)



Home | Pasang Banner | Redaksi | Syarat & Kondisi

Visit & Enjoy of Kabupaten Malang - Copyright 2013 Pemerintah Kabupaten Malang
Jl. Panji No. 158 Kepanjen, Malang - Telp. (0341) 392024 - Fax. (0341) 326791 - 392024